
EDITORIAL.ID – Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala didampingi Wakil Bupati Florensius Ronny, memimpin rapat untuk merespon dan mengantisipasi dampak kemarau panjang terhadap gagal panen pertanian di Kabupaten Sintang, Selasa 15 September 2026.
Pada rapat yang digelar di Pendopo Bupati Sintang tersebut, tampak hadir para asisten, staf ahli bupati, forkopimda, instansi vertikal dan kepala organisasi perangkat daerah terkait di lingkungan Pemkab Sintang.
Bupati Gregorius dalam kesempatan itu menyampaikan, bahwa dalam menghadapi musim kemarau panjang di Kabupaten Sintang, Pemkab Sintang harus mengambil kebijakan dalam rangka membantu masyarakat yang bertani supaya dampaknya bisa diminimalisir.
Selanjutnya, Wakil Bupati Sintang, Florensius Ronny menjelaskan, dengan stok beras sebanyak 88 ton, maka dinilai cukup untuk Kabupaten Sintang.
“Saya juga minta Dinas Ketahanan Pangan untuk menghitung kebutuhan beras seluruh warga Kabupaten Sintang per tahun. Sehingga kita selalu siapkan stok yang cukup. Saya juga minta Dinas PU dan Dinas Perkim membuat maping dan data, desa apa saja yang belum ada jalan darat dalam rangka distribusi sembako, desa apa saja belum memiliki akses air bersih di saat kemarau ini. Sehingga kita bisa membuat perencanaan untuk membantu mereka ke depan,” terang Florensius Ronny.
Sementara itu, Martin Nandung selaku Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura menyampaikan, bahwa petani Sintang yang menanam padi di Juni dan Juli terancam gagal panen karena kemarau ini, padahal Agustus dan September seharusnya mereka memerlukan air, sementara sawah yang ada semuanya sawah tadah hujan.
“Untuk petani lahan kering atau ladang, 40 persen mereka belum bakar ladang, karena tahu musim kemarau tidak mungkin menanam padi di ladang. Kalau Oktober sudah musim hujan, maka petani lahan kering bisa menanam padi. Tapi kalau, ada analisa kemarau sampai Februari 2027, maka petani lahan basah dan kering, terancam tidak bisa menanam padi,” terang Martin Nandung.
“Maka cadangan pangan pemerintah harus diperbanyak, karena masyarakat tidak bisa menanam padi akibat kemarau. Kondisi kemarau panjang ini juga bisa menyebabkan musim tanam padi tidak serempak sehingga peluang serangan hama akan sangat tinggi,” tambahnya.
Yuaner, Ketua Tim Kerja Penyelenggaraan Penyuluhan Kabupaten Sintang menjelaskan, petani yang menanam padi Juni dan Juli dipastikan akan mengalami penurunan produktivitas.
“Pertumbuhan padi juga sangat lambat, jadi dipastikan hasilnya tidak baik. Musim tanam juga akan bergeser ke Oktober. Ada lahan sawah sekitar 277,75 hektare, belum bisa ditanam karena kondisi lahan yang tidak mendukung untuk petani melaksanakan penanaman,” kata Yuaner. (Sal)














