
EDITORIANA – Baru saja saya mengikuti rapat persiapan Rakorda MUI se-Pulau Kalimantan di Sekretariat MUI Kalbar. Dari jam satu siang sampai menjelang jam tiga sore, hampir seluruh panitia hadir. Mereka membahas berbagai persiapan untuk menyukseskan Rakorda yang akan digelar di Grand Mahkota Hotel, Kota Pontianak, pada 21–23 Agustus 2026.
Rakorda MUI itu nanti akan dihadiri delegasi dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Barat sebagau tuan rumah. Bahkan, MUI Sarawak dan Sabah Malaysia, serta Brunei Darussalam juga diundang. Artinya, para tokoh Islam yang hidup dan berkembang di jantung Pulau Kalimantan atau Borneo akan berkumpul dalam satu forum.
Nuan bayangkan saja. Ini seperti Avengers versi ulama Borneo. Bedanya, mereka tidak membawa palu petir, perisai vibranium, atau teknologi antargalaksi. Mereka membawa sesuatu jauh lebih dahsyat, ilmu pengetahuan, pengalaman dakwah, kearifan budaya, serta ingatan sejarah yang tersimpan puluhan tahun di kepala mereka.
Lalu saya berpikir, kalau orang-orang hebat ini hanya datang, berdiskusi, foto bersama, makan siang, pulang membawa tas seminar, lalu selesai, bukankah itu terlalu sayang?
Ini ibarat menemukan ladang durian Jemongko seluas satu kabupaten, tetapi yang dipetik hanya daun-daunnya.
Saya pun mengusulkan kepada panitia agar Rakorda ini menghasilkan satu rekomendasi penting, penulisan buku berjudul “Islam Borneo.”
Usulan itu sederhana, tetapi cita-citanya besar. Buku tersebut nantinya ditulis bersama oleh para delegasi dari berbagai daerah. Setiap wilayah menyumbangkan perspektif, pengalaman, data sejarah, perkembangan dakwah, tradisi keislaman, pendidikan, ekonomi umat, hingga dinamika sosial masyarakat Muslim di kawasan Borneo.
Alhamdulillah, usulan itu langsung diterima dan dimasukkan sebagai salah satu rekomendasi yang akan dihasilkan dalam Rakorda.
Saya senang, bukan karena usulan saya diterima, tetapi karena saya membayangkan betapa pentingnya sebuah karya seperti itu bagi masa depan.
Selama ini, informasi tentang Islam di Borneo masih tersebar di berbagai jurnal, penelitian, skripsi, tesis, disertasi, buku lokal, dan arsip yang kadang lebih sulit ditemukan dari Harun Masiku.
Padahal Borneo memiliki sejarah Islam luar biasa.
Ada Kesultanan Pontianak, Kesultanan Sambas, Kesultanan Banjar, Kesultanan Kutai, Brunei Darussalam, hingga jaringan ulama yang menghubungkan Kalimantan dengan Timur Tengah sejak ratusan tahun silam. Ada pula kekayaan tradisi masyarakat Melayu, Banjar, Kutai, Dayak Muslim, serta komunitas Muslim di Sabah dan Sarawak yang berkembang dengan karakter masing-masing.
Semua itu merupakan harta intelektual yang sangat berharga.
Kalau kita tidak menuliskannya sekarang, siapa yang akan melakukannya?
Kalau tidak didokumentasikan hari ini, jangan-jangan seratus tahun lagi cucu-cucu kita justru lebih hafal sejarah kerajaan Viking dari sejarah Islam di tanah sendiri. Mereka bisa menjelaskan panjang lebar tentang gladiator Romawi, tetapi bingung menjawab ketika ditanya siapa ulama besar yany pernah mewarnai peradaban Islam di Borneo.
Karena itu, saya membayangkan buku Islam Borneo bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia bisa menjadi ensiklopedia mini, peta peradaban, sekaligus penanda, masyarakat Muslim di Pulau Kalimantan tidak hanya pandai membangun masjid, tetapi juga pandai membangun memori kolektif.
Ente bayangkan suatu hari nanti ada mahasiswa, peneliti, guru, dosen, dai, bahkan wisatawan intelektual yang ingin memahami Islam di Borneo. Mereka tidak perlu berkeliling mencari referensi ke mana-mana. Cukup membuka satu buku, lalu menjelajahi perjalanan panjang Islam yang tumbuh di tepian sungai, berkembang di pesisir, mengakar di kampung-kampung, pedalaman, dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Borneo.
Mudah-mudahan gagasan ini benar-benar terwujud. Karena sebuah peradaban tidak hanya dikenang dari gedung-gedung megahnya, tetapi juga dari buku-buku yang ditinggalkannya. Gedung bisa direnovasi. Hotel bisa berganti nama. Spanduk acara bisa pudar dimakan cuaca. Namun sebuah buku yang baik dapat bertahan puluhan ratusan tahun, menjadi saksi, pada tanggal 21–23 Agustus 2026, di Pontianak, pernah berkumpul para pemikir Islam Borneo yang tidak sekadar rapat, tetapi berani bermimpi membangun mahakarya intelektual bagi generasi mendatang.
Mudah-mudahan Allah meridai ikhtiar kecil ini. Siapa tahu, dari ruang rapat yang berlangsung hanya dua jam itu, lahir sebuah karya besar yang membuat orang berkata, “Untuk memahami Islam di Borneo, cukup buka satu buku, Islam Borneo.”
Penulis: Rosadi Jamani/Ketua Satupena Kalbar













