Example floating
Example floating
1001274107-clean

Negeri Ini Butuh Sahrial Abadi, Bukan Para Koruptor

TheEditorial
theeditorial
Sahrial Abadi. (Foto Ai hanya ilustrasi)
Example 468x60
A-AA+A++

EDITORIAL.ID – Banyak anggota Partai Koptagul merekomendasikan saya menarasikan sosok Sahrial Abadi. Saya riset kecil, ternyata beliau sosok inspiratif yang mengajak warga pantungan membangun jembatan. Kok ada manusia seperti itu di tengah korupsi yang sudah akut, sudah jadi budaya. Mari kita kenalan sosok langka ini sambil seruput Koptagul, wak!

Ceritanya sederhana, tapi tamparannya keras. Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, putus dihantam banjir bandang pada November 2025. Warga menunggu pemerintah. Sebulan… dua bulan… tiga bulan… sampai hampir delapan bulan.

1782873990579

Delapan bulan itu bukan waktu sebentar. Pisang sudah tiga kali berbuah. Cabai sudah beberapa kali panen. Bahkan gosip artis sudah berganti musim berkali-kali. Yang belum datang cuma kepastian pembangunan. Mungkin warga akhirnya berpikir, “Kalau terus nunggu, nanti cucu kami yang gunting pita.”

Akhirnya mereka bergerak. Dipimpin Sahrial Abadi, warga patungan. Ada menyumbang uang, ada menyumbang tenaga, ada menyumbang BBM buat ekskavator. Total dana terkumpul lebih dari Rp1,08 miliar.

Baca Juga:  Mereka yang Sudah Masuk “Geng Tersangka” Tapi Tak Bisa Ditangkap

Hebatnya lagi, uang itu tidak menguap ke mana-mana. Sekitar Rp526 juta dipakai memperbaiki badan jembatan dan mengaspalnya. Sisanya sekitar Rp555 juta digunakan membangun dinding penahan tanah agar tidak longsor lagi, sekaligus fasilitas umum dan tempat ibadah.

Ajaib. Ternyata uang bisa benar-benar berubah menjadi jembatan. Di negeri yang sering mendengar istilah “kebocoran anggaran”, peristiwa ini rasanya seperti menemukan Silpester ditangkap kejaksaan.

Lalu datanglah babak yang membuat netizen memijat pelipis. Pemerintah mengumumkan akan membangun jembatan permanen di lokasi yang sama dengan nilai sekitar Rp700 miliar. Tujuh ratus miliar. Angka yang kalau ditulis nolnya kebanyakan, orang bisa salah hitung lalu pindah profesi menjadi auditor.

Tentu saja spesifikasi jembatan permanen berbeda dengan jembatan darurat swadaya masyarakat. Standar konstruksi, daya tahan, dan desainnya memang tidak sama. Tapi publik tetap tak bisa menahan senyum miring melihat jarak angka yang seperti bumi dan galaksi.

Netizen langsung berimajinasi. “Jembatannya nanti bisa dilewati pesawat?” “Ada lift ke bulan?” “Aspalnya pakai campuran saffron?” “Kalau hujan, otomatis keluar payung?” Kalau tidak bercanda, nanti malah nangis.

Baca Juga:  Mengenal Lalu Muhammad Iwan, Jenderal Polisi Dikerangkeng Gara-gara Omprengan MBG

Menteri PU, Dody Hanggodo, datang memberikan apresiasi. Beliau menyebut hasil kerja warga sebagai jembatan emas gotong royong. Pemerintah juga menganggarkan sekitar Rp400 juta untuk memperkuat struktur jembatan tersebut. Bahkan, jembatan swadaya itu akan dipertahankan sebagai monumen gotong royong ketika jembatan permanen selesai dibangun.

Ini baru lucu. Biasanya monumen dibangun untuk mengenang perjuangan masa lalu. Kalau yang ini, monumen itu nanti sekaligus menjadi pengingat, rakyat pernah lebih cepat bergerak dari birokrasi.

Sahrial Abadi tidak memakai jas mahal. Tidak membawa rombongan belasan mobil. Tidak menggelar konferensi pers. Tidak sibuk mencari sudut kamera terbaik. Ia cuma melihat jembatan putus, lalu bekerja.

Sementara di negeri ini, ada juga orang yang melihat anggaran, lalu… ya sudahlah, KPK pasti lebih paham ceritanya. Moral kisahnya sederhana. Kalau semua pejabat punya semangat seperti Sahrial Abadi, mungkin berita korupsi akan kalah ramai dibanding berita panen raya. Sayangnya, yang sering panen justru operasi tangkap tangan.

Baca Juga:  Bupati Melawi Dilaporkan ke Mabes, Pesimis Bisa Diusut

Karena itu, negeri ini tidak butuh lebih banyak pidato. Tidak butuh lebih banyak seremoni. Apalagi baliho yang lebih besar dari hasil kerjanya. Negeri ini cuma butuh lebih banyak orang seperti Sahrial Abadi. Orang yang kalau melihat masalah langsung membawa solusi, bukan membawa proposal tambahan anggaran.

Sebab rakyat sudah terlalu sering membangun negeri dengan tenaga. Jangan sampai mereka juga harus terus-menerus membangun rasa malu untuk mereka yang seharusnya bekerja.

Penulis: Rosadi Jamani/Ketua Satupena Kalbar

1782387829625
Example 120x600
Example 728x250