Example floating
Example floating
1001274107-clean

Mashhad Menangis, Langit Pun Seolah Ikut Berkabung

TheEditorial
theeditorial
Peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya, pada puncak prosesi pemakaman massal di Mashhad, Iran, Kamis (09/07/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters)
Example 468x60
A-AA+A++

EDITORIANA – Saya ingin menarasikan pemakaman jenazah Ali Khamenei di Mashhad, Irak. Merinding lihat kerumunan jutaan pelayat. Hanya orang baik dan mulia bisa dihadiri pelayat sebanyak itu. Setelah tulisan ini tayang, biasanya ada mencap saya, syiah, ups. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Malam itu, langit Mashhad tidak benar-benar gelap. Cahaya dari kubah emas Makam Imam Reza masih memantul lembut. Entah mengapa sinarnya terasa redup. Seakan-akan cahaya pun sedang berduka. Angin berembus pelan menyapu wajah jutaan manusia yang memadati setiap sudut kompleks makam. Tidak ada tawa. Tidak ada sorak kemenangan. Yang terdengar hanyalah lantunan doa berbaur dengan isak tangis, seperti ombak datang silih berganti tanpa pernah benar-benar berhenti.

1782873990579

Kamis malam, 9 Juli 2026, menjadi malam yang akan dikenang oleh jutaan orang sebagai malam ketika sebuah perjalanan panjang akhirnya berakhir. Jenazah Ali Khamenei dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, kota tempat ia dilahirkan. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Itu adalah perjalanan terakhir seorang manusia selama puluhan tahun menjadi pusat pujian, kebencian, harapan, kritik, dan keyakinan jutaan orang.

Betapa kejamnya kehidupan. Ketika seseorang masih berdiri tegak, dunia sibuk memperebutkan pendapat tentang dirinya. Ada mengagungkan, ada mengutuk, ada mencintai, ada pula memusuhinya sepenuh hati. Namun ketika tubuhnya terbujur kaku di dalam peti, semua perdebatan mendadak terdengar begitu kecil. Kematian selalu memiliki cara sunyi untuk membungkam semua suara manusia.

Mashhad sebenarnya telah bersiap sejak fajar. Jalan-jalan menuju kompleks makam sudah dipenuhi manusia sejak malam sebelumnya. Ada membawa anak kecil di pundaknya. Ada ibu-ibu lanjut usia berjalan dengan tongkat. Ada lelaki tua bersandar pada bahu cucunya. Mereka rela bermalam di trotoar, menggelar tikar seadanya, memeluk tas sebagai bantal, hanya agar tidak kehilangan kesempatan berdiri beberapa meter lebih dekat saat peti jenazah melintas.

Baca Juga:  ​Hubungan Iran-AS Kembali Tegang: Washington dan Teheran Saling Lempar Ancaman

Mereka tidak datang karena ingin menyaksikan sebuah upacara. Mereka datang karena hati mereka belum siap menerima perpisahan.

Prosesi semula dijadwalkan dimulai pukul 06.00 pagi. Namun jadwal itu berubah. Penghormatan di Karbala sehari sebelumnya berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Seolah-olah jutaan pelayat di sana menolak waktu terus berjalan. Mereka ingin menahan matahari agar tidak terbit. Mereka ingin menahan jam agar berhenti berdetak. Mereka ingin menunda kenyataan, setiap perpisahan, cepat atau lambat, akan benar-benar terjadi.

Akhirnya, prosesi baru dimulai sekitar pukul 15.00 sore. Dari kejauhan, sebuah truk perlahan bergerak menuju kompleks Makam Imam Reza. Di atasnya terdapat sebuah peti. Begitu sederhana. Begitu sunyi. Begitu menyakitkan.

Betapa sarkastiknya kehidupan. Manusia menghabiskan puluhan tahun mengejar istana, jabatan, kekuasaan, pengaruh, mengorbankan segalanya demi sebuah nama besar. Namun pada akhirnya, semua kebesaran itu menyusut menjadi sebuah peti kayu perlahan bergerak menuju sebidang tanah. Dunia yang dulu terasa begitu luas, tiba-tiba mengecil hanya menjadi liang panjangnya tak lebih dari tubuh manusia.

Ketika iring-iringan melintas, lautan manusia pecah dalam tangisan. Sebagian mengangkat Al-Qur’an. Sebagian lagi mengulurkan tangan ke arah peti, berharap bisa menyentuhnya untuk terakhir kali. Ada memejamkan mata sambil terus berzikir, menangis tanpa suara, karena kesedihan kadang terlalu dalam untuk diterjemahkan menjadi kata-kata.

Baca Juga:  Wasit Dikejar lalu Digebukin, Seandainya Itu Koruptor

Peti kemudian diarak mengelilingi Makam Imam Reza, sebuah ritual penghormatan terakhir sebelum dibawa menuju serambi Dar al-Dhikr, ruang salat kini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Di tempat sama, telah dimakamkan pula sejumlah anggota keluarganya yang gugur dalam serangan 28 Februari 2026.

Mungkin hanya kematian mampu mempertemukan kembali sebuah keluarga yang dipisahkan oleh tragedi.

Di Pelataran Payambar-e Azam, Mostafa Khamenei berdiri memimpin salat jenazah ayahnya. Tidak ada beban lebih berat bagi seorang anak selain mengucapkan doa terakhir untuk ayah yang telah membimbingnya sepanjang hidup. Barangkali bibirnya tetap tenang melafalkan takbir. Namun siapa yang tahu seperti apa badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya?

Setelah salat selesai, keluarga menjalani prosesi tertutup. Mungkin di balik pintu tertutup rapat itu, ada pelukan tak lagi menemukan tubuh untuk dipeluk. Ada air mata sengaja disembunyikan agar tidak menjadi tontonan. Ada doa-doa terputus karena suara tangis lebih dahulu memenuhi tenggorokan.

Selama enam hari, prosesi penghormatan berlangsung di Teheran, Qom, Najaf, Karbala, hingga Mashhad. Menurut Fars News Agency, total partisipasi diperkirakan mencapai 41 hingga 43 juta orang. Angka itu dihitung melalui data transportasi umum, kepadatan massa, dan pelacakan sinyal telepon seluler. Di Irak, sekitar 10 juta pelayat memadati Najaf dan Karbala. Di Mashhad hadir lebih dari 4.700 tamu asing dari 27 negara, sementara pejabat dari lebih 45 negara serta cendekiawan dari lebih 90 negara turut memberikan penghormatan terakhir.

Baca Juga:  Wow, Pemain Spanyol Terima Rp15,5 Miliar per Orang

Namun sesungguhnya, kehilangan tidak pernah bisa dihitung dengan angka. Statistik mampu menghitung jumlah manusia. Tetapi statistik tidak pernah bisa menghitung berapa hati yang remuk. Tidak ada rumus yang mampu mengukur beratnya rindu. Tidak ada satelit bisa memotret pecahnya hati seorang ibu menangis melihat peti itu menghilang di balik lautan manusia. Tidak ada teknologi mampu membaca doa-doa yang dipanjatkan dalam diam.

Lalu tibalah saat yang paling ditakuti semua pelayat. Tanah pertama dijatuhkan ke liang makam. Suara tanah yang mengenai peti terdengar pelan. Sangat pelan. Namun bagi jutaan orang yang berdiri di sana, bunyi itu terasa seperti dentuman yang merobek langit.

Satu genggam tanah. Lalu genggam berikutnya. Kemudian berikutnya lagi. Sedikit demi sedikit, peti itu menghilang. Yang tampak kini hanyalah gundukan tanah. Begitulah akhir dari perjalanan setiap manusia.

Pada akhirnya, dunia yang selama ini diperebutkan habis-habisan ternyata terlalu kecil dibanding sepetak tanah yang menjadi rumah terakhir. Mahkota akhirnya ditukar dengan kain kafan. Pidato berganti doa. Tepuk tangan berubah menjadi tangisan.

Sejarah, betapa pun megahnya ia ditulis, selalu berakhir dengan kalimat sama. Setiap manusia, sekuat apa pun ia pernah berdiri, pada akhirnya akan pulang dalam sunyi.

Oh iya, sekadar informasi, pukul 02.00, Spanyol akan melawan Belgia untuk memperebutkan tiket ke semifinal.

Penulis: Rosadi Jamani/Ketua Satupena Kalbar

1782387829625
Example 120x600
Example 728x250