
EDITORIANA – Waduh, Spanyol harus bertemu tim favorit saya, Prancis di semifinal. Kepastian ini setelah The Matador mengirim pulang Belgia 2-1. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Stadion SoFi, California berubah menjadi laboratorium pengujian kewarasan manusia. Spanyol racikan Luis de la Fuente, datang membawa status peringkat dua dunia. Belgia, pasukan Diables Rouges alias Setan Merah asuhan Rudi Garcia, datang dengan mimpi juara. Sayangnya, mimpi itu seperti investor SPPG kena tipu gerombolan H Dadan cs.
Baru menit pertama, duel sudah panas. Menit ke-13, pemain Belgia melakukan handball yang begitu jelas sampai satelit mungkin ikut berteriak, “Woi… tangan!” Anehnya, wasit Michael Oliver tetap melanjutkan pertandingan. Pendukung Spanyol langsung ngamuk. Di Indonesia, ada sampai memukul bantal sambil menuduh VAR sedang cuti nasional.
Menit ke-30, Dani Olmo melepaskan tembakan ditepis Courtois. Bola muntah disambar Fabian Ruiz. Goool!
Stadion langsung berguncang. Pendukung Spanyol berteriak seperti fans Real Madrid dan Barcelona berdamai di sebuah warkop raksasa.
Yang di Indonesia jauh lebih parah. Ada memakai taplak meja merah jadi kostum Matador. Ada mengejar kambing tetangga sambil teriak, “Toro… toro!” Warkop mendadak berubah jadi Plaza Mayor. Patung Don Quixote seandainya hidup mungkin sudah pensiun mengejar kincir angin dan ikut selebrasi keliling kampung.
Belgia membalas pada menit ke-41. Crossing Timothy Castagne disambut sundulan Charles De Ketelaere. Gooool!
Nah, sekarang giliran pendukung Belgia yang kehilangan akal sehat. Ada memeluk waffle sambil menangis haru. Ada mandi pakai saus cokelat. Bahkan patung Manneken Pis di Brussel, kalau bisa bicara, mungkin sudah teriak, “Itu sundulan siapa? Cakep banget!”
Babak pertama selesai. Di ruang ganti, Luis de la Fuente memberi tausiyah, “Mainlah sederhana, dan harus kompak. Jangan seperti cokelat muda dan cokelat tua sama-sama pencuri.”
Di ruang sebelah, Rudi Garcia ikut berkhotbah, “Kalian dikasih bedil bukan untuk menakuti rakyat, tendang tu bola. Apa nunggu rakyat marah baru kalian semangat cetak gol.” Semua pemain teriak, “Siap, 86 bos!”
Babak kedua makin seru. Pedri dan Ferran Torres masuk. Belgia membalas dengan Lukaku, Witsel, hingga Joaquin Seys. Courtois berkali-kali menyelamatkan gawang, termasuk menggagalkan peluang emas Oyarzabal. Kiper Belgia tampil seperti pintu kos yang dijaga ibu Nanik, susah ditembus.
Sayangnya, menit ke-71 Courtois cedera dan diganti Senne Lammens. Pendukung Belgia langsung memasang wajah seperti waffle jatuh ke got.
Laga makin keras. Kevin De Bruyne, Axel Witsel, dan Aymeric Laporte bergantian menerima kartu kuning. Wasit mengeluarkan kartu lebih rajin dari panitia membagikan kupon doorprize.
Lalu datang menit ke-88. Mikel Merino baru dua menit masuk lapangan. Bola liar menghampiri. Tanpa banyak basa-basi…Gooooool! Merino again, sang penentu Matador. Saat lawan Portugal, Merino juga yang memulangkan Bang Dodo cs.
California seperti diguncang gempa tujuh koma sekian SR. Rumah si Arnold Susahbener ikut bergetar. Pendukung Spanyol di Indonesia langsung kesurupan. Ada joget flamenco di atas tikar. Ada mengibaskan sarung seperti Matador mengejar banteng. Penjual paella dadakan seolah bermunculan di setiap gang. Bahkan antena televisi konon ikut membungkuk memberi hormat kepada Merino.
Sebaliknya, kubu Belgia mendadak sunyi. Ada menyalahkan kentang goreng, ada memeluk cokelat Belgia, ada berharap Manneken Pis menyiramkan air keberuntungan.
Peluit panjang berbunyi. Spanyol menang 2-1 dan melaju ke semifinal menghadapi Prancis. Belgia resmi pulang sambil membawa enam koper hijau titip Bu Etik.
Laga berikutnya, Inggris akan menghadapi the Viking, Norwegia esok subuh pukul 04.00. Banyak berharap, Erling Haaland bisa memulangkan Hary Kane cs.
Penulis:Â Rosadi Jamani/Ketua Satupena Kalbar















