
EDITORIANA – Benar-benar di luar nurul, rasa tidak terima. Udah nontonnya serasa jantung mau copot. Juara AVC Cup, mengalahkan India, Korsel, eh begitu turun ke ASEAN, malah dipecundangi Kamboja 2-3. Asli sedih, tapi inilah bola. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Semesta memang punya selera humor yang kejam. Baru kemarin Indonesia dielu-elukan sebagai juara AVC Men’s Cup 2026, sekarang malah dipaksa menerima kenyataan pahit di final SEA V Cup Leg 1. Rasanya seperti baru beli motor baru, eh besoknya sudah dipinjam tetangga tanpa bensin kembali.
Final di Candon City Arena, Kota Candon, Provinsi Ilocos Sur, Filipina, benar-benar menguras emosi. Indonesia tumbang dari Kamboja dengan skor dramatis 2-3 (23-25, 25-28, 25-23, 25-22, 10-15). Ini bukan pertandingan voli, melainkan simulasi kiamat bagi jantung para pendukung Garuda.
Yang bikin makin nyesek, Indonesia sempat tertinggal dua set. Saat netizen mulai menyiapkan pidato kekalahan, Garuda bangkit. Set ketiga dan keempat berhasil direbut. Harapan hidup lagi. Grup WA kembali ramai. Ada yang sudah pesan kopi untuk merayakan comeback.
Lalu datang set kelima. Set yang ternyata dikirim khusus untuk menguji kesabaran bangsa.
Boy Arnez, yang beberapa hari lalu menjadi MVP AVC 2026 sekaligus Outside Hitter Terbaik, kali ini tampil jauh di bawah performa terbaiknya. Berkali-kali serangannya dipatahkan. Blok Kamboja berdiri seperti tembok birokrasi, susah ditembus. Pertahanan mereka juga luar biasa rapat. Bola yang seharusnya mati selalu berhasil diselamatkan.
Padahal pelatih Reidel Toiran atau Pak RT sudah menurunkan skuad terbaik. Alfin Daniel Pratama menjadi setter, Muhammad Reyhan sebagai libero, Hendra Kurniawan dan Putra Bagus Hidayatullah di middle blocker, Boy Arnez Arabi dan Farhan Halim sebagai outside hitter, serta Fauzan Nibras di posisi opposite. Rama Fazza Fauzan, Dio Zulfikri, Doni Haryono, Sigit Ardian, Tedi Oka Syahputra, Raden Ahmad Gumilar, hingga Raihan Rizky Attorif juga menjadi bagian dari kekuatan Indonesia sepanjang turnamen.
Kalau ini kabinet pemerintahan, menterinya lengkap. Sayangnya, oposisi kali ini datang membawa strategi, bukan sekadar janji.
Jangan salah sangka. Kamboja menang bukan karena keberuntungan. Sebelum ke final, mereka lebih dulu membungkam Thailand 3-1. Mesin poin mereka, Veasna Voeurn, tampil luar biasa dengan 21 poin di semifinal. Kuon Mom menambah 13 poin, sedangkan Thy Menghuong menyumbang 12 poin. Ditambah Ron Sokchea, Phol Ratanak, dan setter Keo Srengleyhour, racikan pelatih Nov Samet benar-benar matang.
Kita sering bercanda, Kamboja hanya pelengkap turnamen. Ternyata yang menjadi pelengkap justru rasa percaya diri kita. Lapangan voli tidak peduli siapa juara kemarin. Tidak ada pencitraan, tidak ada konferensi pers, tidak ada survei elektabilitas. Yang dihitung hanya angka di papan skor.
Selamat untuk Kamboja yang sukses menjadi juara SEA V Cup untuk pertama kalinya. Kalian merebut gelar itu dengan kerja keras, bukan belas kasihan.
Sementara Indonesia, jangan terlalu lama meratapi kekalahan. Kekalahan ini memang pahit, lebih pahit dari membaca janji politik setelah pemilu. Namun, justru karena standar Timnas Voli sudah setinggi langit, kalah dari Kamboja terasa seperti bencana nasional. Hormat tetap untuk Garuda. Hari ini jatuh, besok wajib bangkit. Sebab juara sejati bukan tim tak pernah kalah, melainkan tim selalu tahu cara membalasnya.
“Duh, gimana ya, Bang. Kalau kalah sama Jepang, wajar. Ini kalah sama Kamboja, asli malu.”
“Sabar, wak. Pak RT kita mungkin ngasih pelajaran berharga buat timnya, jangan suka meremehkan lawan.”
Penulis: Rosadi Jamani













