Example floating
Example floating
1001274107-clean

Usia Emas Dekat Alquran, Bukan Dekat Berkas Korupsi

TheEditorial
theeditorial
Foto Ai hanya ilustrasi.
Example 468x60
A-AA+A++

EDITORIANA – Kemarin pagi saya mengantar istri, lalu mampir ke kios bubur ayam langganan di Sungai Jawi, Pontianak. Semangkuk bubur Rp12 ribu sukses menyelamatkan perut yang sejak tadi berorasi meminta kemerdekaan. Baru sendok terakhir mendarat, datanglah seorang pria yang tidak asing. Juadi. Saya mengenalnya sebagai qari cukup terkenal di Pontianak. Rupanya ia baru selesai mengantar anak sekolah dan ingin sarapan juga.

Saya bertanya, “Masih jadi qari?”

1782873990579

Beliau tertawa kecil. “Sekarang jadi dewan hakim MTQ Kalbar.”

Saya langsung berpikir, ternyata masih ada orang naik jabatan karena semakin dekat dengan Alquran. Bukan karena baliho segede lapangan bola, bukan karena buzzer lembur tiga sif, apalagi karena rajin membuat drama. Sebuah promosi yang membuat malaikat mungkin ikut mengangguk bangga.

Obrolan kami kemudian berbelok ke cabang MTQ yang unik, muratal tilawah usia emas. Juadi ini bercerita, cabang ini pertama kali dilombakan di Kota Pontianak. Pesertanya berusia di atas 50 tahun. Kini hampir seluruh kabupaten dan kota di Bumi Khatulistiwa sudah mengikutinya. Bahkan MTQ tingkat provinsi sudah dua kali melombakannya dan akan kembali hadir di Kayong Utara.

Baca Juga:  Politik dan Uang: Membedah Relasi "Pasangan Tua" yang Salah Kaprah

Saya langsung teringat masa kecil. Hampir setiap kampung di Kalbar memiliki tradisi membaca Alquran dari rumah ke rumah setiap malam Jumat. Yang hadir kebanyakan para bapak dan ibu usia emas. Kacamata mereka memang tebal, tetapi semangat membaca ayat suci jauh lebih tebal. Mereka datang membawa mushaf, bukan proposal proyek. Membuka halaman Alquran, bukan membuka peluang komisi. Setelah selesai membaca, mereka makan bersama lalu bergiliran ke rumah berikutnya pada pekan selanjutnya.

Tradisi sederhana itu ternyata diam-diam naik kelas menjadi cabang resmi MTQ. Hebat juga. Yang dulu hanya berlangsung di ruang tamu kampung, kini berdiri gagah di panggung provinsi.

Di sinilah saya merasa kita sering salah mengartikan usia emas. Sebagian orang menganggap usia emas adalah saat rekening menggunung, rumah bertingkat, dan mobil berderet. Padahal ada juga memasuki usia emas sambil membawa map proyek lebih sering dari membawa mushaf. Rambut sudah memutih, tetapi yang dihafal bukan surah, melainkan celah aturan. Yang dipoles bukan tajwid, melainkan laporan keuangan. Ironis sekali. Umurnya emas, perilakunya kuningan.

Baca Juga:  Dongeng dari Negeri Embegia

Sementara para peserta muratal usia emas justru mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi mahal. Semakin bertambah usia, semakin dekatlah kepada Alquran. Bukan semakin dekat kepada korupsi, uang haram, tipu daya, atau jabatan yang dipertahankan mati-matian seolah liang kubur bisa disertifikatkan.

Semangkuk bubur Rp12 ribu kemarin akhirnya memberi pelajaran yang nilainya mungkin miliaran. Ternyata sukses bukan soal seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan seberapa akrab kita dengan ayat-ayat Allah ketika rambut mulai memutih. Sebab nanti, yang menerangi perjalanan terakhir bukan saldo rekening, bukan sertifikat tanah, dan bukan lemari penuh penghargaan. Yang bercahaya adalah amal yang kita bawa.

Kalau usia emas akhirnya harus datang kepada semua orang, semoga kita sibuk berebut saf mengaji, bukan berebut pengacara. Sibuk memperbaiki bacaan Alquran, bukan memperbaiki keterangan di ruang pemeriksaan. Itu baru benar-benar pensiun yang naik kelas.

Terima kasih Pak Juadi udah menemani sarapan dan ceritanya. Semoga ketemu lagi dengan kawan lain untuk mendengarkan cerita berbeda. Tentunya cerita menarik layak untuk dijadikan pelajaran. Bahkan, saya ingin ketemu koruptor, untuk mendengarkan cerita syahdunya, ups.

Baca Juga:  Danramil Buntoro Berikan Wawasan Bela Negara kepada Siswa MPLS SMA Negeri 1 Mempawah Hilir

Penulis: Rosadi Jamani

1782387829625
Example 120x600
Example 728x250