
EDITORIAL.ID – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin sore seiring meningkatnya ketegangan politik global yang memicu aksi hindar risiko oleh para investor.
Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda tergelincir sebesar 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp 17.948 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di posisi Rp 17.921 per dolar AS.
Pergerakan rupiah saat ini tentu memunculkan sentimen global, di mana eskalasi konflik politik di Timur Tengah memicu kekhawatiran besar di pasar keuangan dunia. Dampaknya, investor global menarik dana dari pasar negara berkembang dan berbondong-bondong beralih ke dolar AS sebagai aset safe-haven.Â
Selain itu, pelemahan juga berdampak pada beban impor. Ketegangan politik turut mengerek harga minyak mentah dunia, yang berpotensi langsung membengkakkan biaya impor energi nasional.
Seiring dengan itu, pelemahan rupiah juga berefek pada barang impor. Pelemahan ini diprediksi akan mengerek naik harga bahan baku impor (imported inflation) bagi industri manufaktur dalam negeri.Â
Rupiah sendiri menjadi salah satu mata uang Asia yang paling sensitif dan rentan terkena dampak negatif dari persepsi risiko eksternal ini.Â
Sejumlah pengamat pasar memperkirakan, kalau rupiah masih akan berada di bawah tekanan berat dan berfluktuasi pada rentang Rp 17.930 hingga Rp 17.980 per dolar AS. Investor kini tengah menanti langkah intervensi dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar di pasar domestik. (FikA)














