
EDITORIANA – Kalau yang demo pedagang telur, mungkin kantor dilempari telur. Yang demo penambak ikan, bangkai ikan bakal dijadikan bom. Kalau yang ngamuk pawang gajah, jangan kaget kalau seekor gajah nongkrong di ruang resepsionis sambil minta bertemu direktur. Tapi kali ini yang marah peternak ayam. Tak ayam ratusan bangkai ayam dilemparkan ke kantor PLN Palangka Raya. Saya tak bisa bayangkan baunya, muntah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Palangka Raya, kota terkenal dengan Bundaran Besar, Sungai Kahayan, dan langit yang luas seperti janji kampanye, mendadak berubah menjadi lokasi syuting film Final Destination: Broiler Edition. Pada 28 hingga 29 Juli 2026, sekitar 90 persen kandang modern sistem close house mendadak berubah fungsi. Dari hotel bintang lima bagi ayam menjadi oven raksasa tanpa tombol mati.
Semuanya berawal ketika listrik PLN mendadak lenyap seperti emas 74 kg di Brankas Cipete. Blower berhenti berputar. Kipas angin mati mendadak. Ventilasi lumpuh. Oksigen kabur entah nongkrong di planet mana. Dalam waktu singkat, ribuan ayam tinggal menunggu jadwal panen justru lebih dulu dijemput takdir. Mereka tumbang berjamaah dengan disiplin ala calon manajer Kopdes Merah Putih.
Peternak sebenarnya sudah mengeluarkan jurus terakhir. Genset dinyalakan sampai suaranya seperti motor balap dipaksa narik kayu se-Kalimantan. Sayangnya, mesin itu ikut menyerah setelah dipaksa kerja rodi tanpa jeda. Penderitaan belum selesai. BBM di SPBU justru langka. Rasanya seperti ikut lomba balap, tetapi bensinnya harus dicari memakai tongkat nabi. Akibatnya, satu kandang berkapasitas 40 ribu ekor bisa mengalami kerugian hingga Rp360 juta. Itu bukan kandang lagi, melainkan brankas yang meledak sambil berkokok lirih.
Hari pertama demonstrasi di Kantor PLN UP3 Palangka Raya, Jalan Ahmad Yani, masih penuh harapan. Massa berorasi. Menuntut dialog. Meminta kompensasi. Suasananya masih seperti seminar bertema, “Bagaimana Caranya Bikin Listrik Tidak Hobi Main Petak Umpet.”
Namun memasuki hari kedua, kesabaran peternak habis seperti Putin yang terus diserang drone Ukraina. General Manager PLN UID Kalselteng justru berada di Banjarbaru. Yang menemui demonstran hanya pejabat bawahan. Ibarat mengundang Mike Tyson untuk bertinju, yang datang malah wasit membawa peluit.
Lalu lahirlah adegan yang mungkin akan dikenang buku sejarah demonstrasi Indonesia. Sebuah pick-up datang membawa ratusan bangkai ayam. Aromanya begitu heroik sampai lalat pun mungkin mengadakan rapat koordinasi nasional. Bangkai-bangkai itu dilempar ke halaman kantor, gerbang, hingga trotoar. Mungkin inilah satu-satunya demonstrasi ketika ayam yang sudah mati masih sempat melakukan aksi turun ke jalan.
Konon, aroma itu membuat Bundaran Besar ingin berputar menjauh. Sungai Kahayan mengalir lebih deras demi menyelamatkan hidung warga. Bahkan Tugu Soekarno mungkin hanya bisa memandang langit sambil bertanya, “Apakah ini cita-cita kemerdekaan yang dulu diperjuangkan?”
Hari ini, 30 Juli 2026, babak baru dimulai. Sang General Manager akhirnya berjanji akan datang pukul sembilan pagi setelah menerima telepon penuh emosi dari perwakilan demonstran. Di sisi lain, Gerakan Palangka Raya Gelap justru membuka pendaftaran Aksi Jilid III. Semua diajak bergabung. UMKM, warga terdampak, siapa pun yang pernah menjadi korban listrik padam.
Semoga saja pertemuan itu menghasilkan solusi. Sebab kalau sampai listrik kembali menghilang, jangan salahkan rakyat bila demonstrasi berikutnya naik kelas. Hari ini bangkai ayam yang datang. Besok, siapa tahu kandangnya sekalian ikut piknik ke kantor. Di Palangka Raya beberapa hari terakhir, ternyata yang paling menakutkan bukan film horor tengah malam, melainkan suara seseorang berteriak, “Listrik padam!” Karena setelah itu, bukan hanya lampu yang mati. Harapan ayam-ayam broiler pun ikut padam.
“Kasihan juga PLN ya, Bang.”
“Mau gimana lagi, wak. Padahal mau seruput Koptagul lagi di Kopi Boss Palangkaraya, mau makan sampedas di Kampung Lauk.” Ups
Penulis: Rosadi Jamani














