
EDITORIANA – Ketemu lagi malam Jumat. Malam ketika tukang jamu keliling mendadak omzetnya naik, jamu sehat lelaki ludes, sari rapet habis diserbu, kelambu disemprot parfum sampai nyamuk pun sungkan masuk. Black mamba sementara diparkir dulu, landasan dicek bebas kerikil. Sing sabar, rek. Siapkan Koptagul plus madu kelulut, dan nikmati narasinya, wak!
Kali ini kita ngobrol soal tempat yang dulu bikin bapak-bapak bilang, “Saya cuma lewat,” padahal motornya parkir dua jam. Ya, lokalisasi. Tempat yang berkali-kali diumumkan tamat, tetapi selalu muncul lagi seperti sinetron yang sudah ditamatkan tiga kali.
Selamat datang di Planet Bumi. Tempat paling ajaib sejagat raya. Manusia ribut soal moral di siang hari, lalu malamnya sibuk mencari Google Maps menuju kenikmatan. Lucunya lagi, praktik beginian sudah eksis sejak sekitar 2400 Sebelum Masehi di Mesopotamia. Saat nenek moyang kita belum kenal mi instan, manusia sudah mengenal “paket hiburan.” Prostitusi sakral dipersembahkan kepada Dewi Ishtar. Herodotus mungkin sampai pegal mengurut pelipis. Rupanya sejak ribuan tahun lalu, syahwat memang selalu lebih rajin bangun pagi dari akal sehat.
Masuk Yunani Kuno, bisnisnya naik kelas. Manajemennya lebih rapi dari seleksi Manajer Kopdes. Ada kelas bawah penghuni porneion, ada kelas VIP para hetaira. Bintang utamanya Aspasia. Cantik, cerdas, bisa debat filsafat, politik, sampai membuat para filsuf lupa pulang. Jangan kira sejak dulu laki-laki hanya kalah oleh kecantikan. Mereka juga gampang kalah oleh perempuan yang pandai ngomong.
Romawi Kuno lebih gila lagi. Semua meretrices wajib daftar resmi kepada pejabat aediles. Ada administrasi, ada registrasi, ada seragam toga khusus. Negara benar-benar ikut mengawasi urusan yang biasanya dilakukan sambil mematikan lampu.
Masuk Abad Pertengahan, Gereja Katolik mengalami galau berjamaah. Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas menyebut prostitusi sebagai dosa besar. Tetapi di saat yang sama dianggap lesser evil. Logikanya seperti got di depan rumah. Bau memang, tetapi kalau ditutup, satu kampung bisa berenang di genangan yang lebih menjijikkan. Kadang sejarah memang lebih lucu dari duel cokelat tua vs cokelat muda.
Lompat ke Hindia Belanda. Tentara Eropa yang jauh dari istri mulai mencari penghangat hati. Lahirlah sistem pergundikan nyai. Pemerintah kolonial yang terkenal realistis kemudian menerbitkan Sistem Regulasi Medis 1852. Pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan demi mencegah Raja Singa menyerbu barak tentara. Yang dijaga bukan kesucian, tetapi produktivitas serdadu. Kolonial memang kalau urusan untung-rugi selalu nomor satu.
Masuk era modern, Indonesia mendadak menjadi tukang bongkar paling rajin. Program Indonesia Bebas Lokalisasi periode 2016-2019 menargetkan lebih dari 160 kompleks prostitusi ditutup dari Sabang sampai Merauke.
Kramat Tunggak Jakarta Utara yang berdiri sejak era Ali Sadikin tahun 1970 berubah menjadi Jakarta Islamic Centre pada 1999. Kalijodo dibersihkan tahun 2016 menjadi RPTRA. Boker Ciracas diratakan tahun 2003 menjadi gelanggang olahraga.
Di Jawa Barat, Saritem Bandung yang hidup sejak abad ke-19 digusur demi pesantren. Tetapi jalur Pantura seperti Indramayu, Subang, hingga Limusnunggal Cileungsi tetap tercatat sebagai wilayah dengan titik mangkal desa terbanyak menurut survei Potensi Desa BPS.
Jawa Tengah menutup Sunan Kuning Semarang dan Gambilangu Kendal pada akhir 2019. Silir Surakarta sudah berubah menjadi Pasar Klithikan sejak 2003. Tinggal Sarkem Yogyakarta yang tetap berdiri setegar mantan yang susah move on sejak zaman rel kereta api Belanda.
Jawa Timur benar-benar liga utama. Lebih dari 50 lokalisasi pernah tercatat. Gang Dolly dan Jarak Surabaya ditutup Juni 2014. Kembang Kuning ikut disapu. Balong Cangkring Mojokerto diputihkan tahun 2016. Girun Malang dan Kedung Banteng Ponorogo dibubarkan. Hanya vila-vila Tretes Pasuruan yang masih menikmati udara pegunungan sambil pura-pura tidak tahu apa-apa.
Sumatra ikut merapikan panggung. Payo Sigadung Jambi ditutup tahun 2015. Teleju Pekanbaru digusur tahun 2008. Sementara Sintai Batam dan Martubung Medan tinggal menjadi legenda yang diceritakan dengan suara pelan-pelan.
Kalimantan pun ikut berhias. Solok dan Bandang di Kalimantan Timur ditutup melalui Deklarasi 2016. Telaga Biru Singkawang diratakan. Bukit Sungkai Palangka Raya ikut digembok. Tetapi denyut Mega Timur Sungai Ambawang, Bintang Mas Rasau Jaya, kantong Bukit Kelam dan Sungai Durian di Sintang masih sering disebut-sebut. Papua menyusul menutup Tanjung Elmo Jayapura pada Agustus 2015.
Lalu, apakah semuanya selesai? Hahaha… di sinilah manusia kembali menunjukkan jurus pamungkasnya. Mengira prostitusi hilang hanya karena bangunannya dibongkar itu sama seperti mengira nyamuk punah hanya karena raket listrik dicas penuh.
Bisnisnya tidak mati. Ia cuma pindah kostum. Berkamuflase. Dulu antre di gang sempit, sekarang antre di kolom chat. Dulu pakai kode kedipan mata, sekarang pakai emoji. Dulu menunggu mucikari, sekarang cukup menunggu notifikasi berbunyi. Revolusi industri akhirnya benar-benar menyentuh sektor yang satu ini.
Istilah Open BO berubah menjadi mantra digital. Para penyedia jasa langsung bertransaksi peer-to-peer. Mucikari yang dulu seperti direktur utama mendadak terkena PHK digital. Teknologi memang kejam. Bahkan dunia lendir pun terdampak disrupsi.
Lokalisasi memang tutup, tetapi aktivitasnya menyebar ke rumah kos harian, apartemen transit dengan sistem tanpa tatap muka, hingga hotel melati yang bisa dipesan sambil rebahan. Polisi garuk kepala. Dinas kesehatan ikut pusing. Risiko Tindak Pidana Perdagangan Orang terhadap anak meningkat, sementara pengawasan kesehatan makin sulit dilakukan karena semua bermain di balik layar ponsel.
Dampaknya bukan sekadar gosip warung kopi. Indonesia kini diperkirakan memiliki lebih dari 560.000 orang hidup dengan HIV. Sebanyak 76 persen kasus berada di 11 provinsi besar, yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Bali, Papua, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau.
Ironisnya, pekerja seks hanya menyumbang sekitar 10-15 persen kasus. Pengguna jarum suntik sudah di bawah 5 persen. Kelompok terbesar justru ibu rumah tangga, hampir 35 persen, yang tertular dari suami yang gemar “wisata malam” tanpa membeli oleh-oleh selain virus. Disusul kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki sebesar 25-30 persen.
Belum cukup. Dalam lima tahun terakhir, kasus sifilis alias Raja Singa melonjak lebih dari 70 persen, dari sekitar 12.000 menjadi lebih dari 20.000 kasus per tahun. Fenomenanya disebut ping-pong effect. Kuman bolak-balik lebih rajin dari pegawai yang absen pagi-sore.
Karena negosiasi penggunaan kondom di kamar kos dan apartemen makin lemah, lebih dari 5.000 ibu hamil setiap tahun terdeteksi positif HIV. Pemerintah terus mengejar target global 95-95-95 pada 2030. Sayangnya, birokrasi masih berjalan dengan map kertas. Sedangkan syahwat manusia sudah memakai internet 5G. Ekskavator memang bisa merobohkan tembok lokalisasi, tetapi sampai hari ini belum ada alat berat mampu membongkar isi kepala manusia kalau sudah “lapar mata”, Google Maps selalu berhasil menemukan jalan pulang yang salah.
Penulis: Rosadi Jamani













