
EDITORIANA – Awali hari Senin dengan cerita indah. Capek memasang wajah koruptor terus. Kali ini saya nak mengajak anggota Partai Koptagul mengenang masa masuk sekolah usai libur panjang. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ada satu suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan kita. Suara bel sekolah. Sekali saja terdengar, seolah-olah mesin waktu langsung bekerja. Dalam hitungan detik, rambut yang kini mulai memutih berubah kembali hitam. Wajah yang dipenuhi beban hidup mendadak menjadi wajah seorang anak yang hanya memikirkan tugas matematika dan jadwal main bola sore nanti.
Hari ini, tahun ajaran baru kembali dimulai. Sekolah kembali bernapas. Meja-meja yang lama membisu kembali menjadi saksi tumpukan buku. Papan tulis kembali dipenuhi tulisan guru. Halaman sekolah yang beberapa minggu terakhir hanya ditemani angin, kini kembali riuh oleh tawa yang saling bersahutan. Begitu pula pesantren. Asrama yang sempat lengang kini kembali dipenuhi sandal yang berserakan, jemuran yang memenuhi halaman, dan suara santri yang saling memanggil dari ujung lorong.
Saya selalu menunggu hari kembali mondok.
Bukan karena ingin cepat belajar. Bukan pula karena rindu bangun sebelum subuh. Yang saya tunggu adalah pertemuan kembali dengan kawan-kawan seperjuangan. Anak-anak kampung yang datang dari berbagai penjuru, membawa logat berbeda, membawa cerita berbeda, dan membawa oleh-oleh khas daerah masing-masing.
Momen itulah yang sampai hari ini masih membuat dada terasa hangat.
Saya, misalnya, hampir selalu membawa Salak Sekura. Sudah seperti tradisi tidak pernah tertulis. Selain itu, tentu membawa beras sekarung dari rumah. Karung kecil berisi harapan orang tua agar anaknya tidak kelaparan di perantauan. Di sampingnya ada lauk-pauk yang bisa bertahan beberapa hari. Ikan asin. Sambal. Kadang abon. Semua dibungkus dengan penuh kasih sayang oleh ibu sebelum berangkat.
Kini saya sadar, yang dibawa sebenarnya bukan sekadar beras. Di setiap butirnya ada doa.
Di setiap bungkus lauk ada air mata yang sengaja disembunyikan ibu agar anaknya berangkat dengan hati tenang.
Teman-teman lain datang dengan kekhasannya masing-masing.
Ada membawa kepah atau kerang dari kampung pesisir. Ada membawa jeruk yang aromanya memenuhi kamar. Ada membawa pisang setandan. Adanmembawa singkong yang baru dicabut dari kebun. Bahkan ada yang membawa gula merah buatan orang tuanya.
Begitu semua berkumpul, tidak ada yang menghitung milik siapa. Plastik dibuka. Daun pembungkus dilepas. Lalu semua orang makan bersama.
Tidak ada bertanya siapa kaya dan siapa miskin. Tidak ada merasa lebih hebat karena membawa lebih banyak. Hari itu kami hanya mengenal satu mata uang, yaitu persaudaraan.
Sekarang saya berpikir, mungkin itulah pelajaran paling mahal pernah saya dapatkan. Anehnya, tidak diajarkan di ruang kelas. Tidak ada ujian. Tidak ada nilai rapor. Tetapi justru itulah ilmu yang paling lama tinggal di hati.
Sekolah belum langsung aktif. Masih ada jeda beberapa hari. Hari-hari itulah yang terasa seperti pesta kecil bagi anak-anak kampung.
Kami berjalan kaki ke pasar. Makan bakso dengan wajah paling bahagia di dunia. Minum es yang rasanya lebih nikmat dari minuman mahal zaman now.
Uang hasil pemberian orang tua saat pulang kampung masih tersisa. Dompet terasa tebal. Kami merasa seperti orang paling kaya di muka bumi.
Padahal seminggu kemudian, uang itu tinggal beberapa lembar. Kami kembali menjadi ahli menghitung recehan sambil berharap kiriman dari rumah segera datang.
Begitulah hidup mengajari kami arti cukup. Yang paling saya rindukan bukan gedung sekolahnya. Bukan pula ruang kelasnya. Yang saya rindukan adalah orang-orang di dalamnya.
Guru-guru yang dulu sering kami anggap cerewet. Nasihat mereka dulu terasa panjang dan membosankan. Sekarang setiap kalimatnya justru menjadi pegangan hidup. Ada nasihat baru benar-benar kita pahami puluhan tahun kemudian.
Saya rindu teman-teman setiap sore mengajak bermain voli sampai matahari tenggelam.
Rindu lapangan sepak bola di halaman masjid. Mainnya nyeker sambil pakai sarung.
Rindu saat masak sama-sama sebelum masuk kelas. Rindu antre air ledeng setiap mau mandi. Rindu kawan yang suka jahilin santriwati.
Yang lebih menyakitkan, sebagian teman itu kini entah di mana. Ada merantau. Ada menjadi guru, jadi Kades, petani jeruk, pejabat, bahkan ada sudah lebih dulu dipanggil Allah.
Ternyata benar…Yang paling cepat berlalu bukanlah masa kecil. Melainkan kesempatan untuk berkumpul tanpa memikirkan apa pun selain kebersamaan.
Kini sekolah mungkin jauh lebih megah. Anak-anak membawa telepon pintar, tablet, tas bermerek, dan vperlengkapan yang dulu tidak pernah kami bayangkan.
Tetapi ada satu hal yang jangan sampai hilang. Semangat berbagi. Rasa hormat kepada guru. Persahabatan yang tulus.
Karena ketika usia sudah bertambah, jabatan datang dan pergi, harta naik lalu turun, yang tersisa hanyalah kenangan.
Anehnya, kenangan itu sering kali bukan tentang nilai seratus, bukan tentang menjadi juara kelas.
Yang paling sering datang justru aroma nasi dari bekal ibu. Suara teman memanggil dari depan asrama.
Tangan guru yang menepuk pundak sambil berkata, “Belajarlah yang sungguh-sungguh.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa saat itu.
Namun hari ini, ketika guru mulai satu per satu menua, ketika teman-teman mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing, ketika sebagian hanya bisa ditemui lewat doa di atas pusara, kita baru mengerti, sekolah tidak pernah sekadar mengajarkan membaca dan berhitung.
Sekolah sedang menulis bab paling indah dalam hidup kita. Bab yang baru kita baca dengan air mata setelah semuanya selesai.
Kalau hari ini kalian melihat anak-anak berangkat sekolah atau para santri kembali mondok, jangan hanya lihat tas yang mereka pikul. Lihatlah mimpi yang sedang mereka bawa. Lihatlah doa orang tua yang ikut berjalan di belakang mereka.
Kalau tiba-tiba dada terasa sesak, mata mulai berkaca-kaca, mungkin itu bukan karena usia yang semakin tua. Melainkan karena hati sedang diam-diam pulang… ke masa ketika hidup terasa begitu sederhana, ketika bahagia cukup dengan bekal dari ibu, teman-teman di asrama, dan keyakinan, esok pagi, bel sekolah akan kembali berbunyi.
Penulis: Rosadi Jamani/Ketua Satupena Kalbar













