
EDITORIANA – Dari kemarin udah rame ngingatin, “Bang, jangan lupa Maljum.” Memang dah kader Partai Koptagul, urusan malam Jumat selalu ingat. Kali ini saya mau membahas sebuah paradok. Negara maju umumnya minim kelahiran. Padahal, negaranya paling laju produksi film dewasa. Jangan ngeras ye. Siapkan Koptagul, tiga telur ayam kampung plus madu Kapuas Hulu biar lebih jreng. Simak narasinya, wak!
Di negara-negara maju, sperma seolah sudah memiliki GPS, radar, kecerdasan buatan, bahkan peta tiga dimensi menuju ovum. Sayangnya, ia lebih sering berakhir di studio syuting dari benar-benar menyelesaikan misi evolusinya.
Anatomi tubuh dipelajari sampai ke milimeter. Hormon dibahas dalam jurnal ilmiah. Sex education diajarkan secara terbuka. Hubungan intim divisualisasikan dari berbagai sudut kamera. Black Mamba dan landasan reproduksi menjadi “selebritas” yang tampil siang malam di layar.
Tetapi ketika alam bertanya, “Mana bayinya?” Semua mendadak sibuk melihat kalender kerja.
Jepang adalah panggung terbesar ironi itu. Tahun 2025, negeri sakura hanya melahirkan 671.236 bayi, turun 14.937 dari tahun sebelumnya. Itu menjadi rekor terendah sejak 1899. Total Fertility Rate (TFR) mereka tinggal 1,14 anak per perempuan. Bahkan, Tokyo hanya 0,96. Di sisi lain, kematian mencapai 1,59 juta jiwa, sehingga populasi menyusut 918.000 orang. Penurunan alami itu sudah berlangsung 19 tahun berturut-turut.
Pemerintah sudah menggelontorkan sekitar Rp388 triliun untuk membantu keluarga muda. Namun musuh terbesar mereka bukan lagi penyakit, melainkan harga rumah, budaya lembur, biaya hidup, tekanan karier, dan kelelahan mental. Akibatnya, banyak Black Mamba memilih rebahan dari menjalankan tugas biologisnya mencari ovum.
Yang lebih menggelitik, Jepang justru menjadi salah satu raksasa industri film dewasa dunia. Sekitar 20.000 film JAV diproduksi setiap tahun dengan nilai sekitar US$4,4 miliar atau sekitar Rp57 triliun. Jika seluruh industri pornografi dihitung, nilainya mencapai US$70 miliar setiap tahun. Ditambah love hotel, rumah bordil legal, dan berbagai bisnis hiburan dewasa lainnya, nilainya sekitar ¥5 triliun, hampir 1 persen PDB Jepang.
Kalau Charles Darwin masih hidup, mungkin beliau ikut bingung. Evolusi menciptakan hubungan seksual agar sperma bertemu ovum dan lahirlah generasi baru. Manusia modern justru menjadikan perjalanan sperma itu sebagai industri hiburan bernilai miliaran dolar.
Sperma dipotret. Ovum diceritakan. Hubungan intim disutradarai. Yang tidak ikut syuting justru bayi.
Korea Selatan bahkan lebih dramatis. TFR mereka tinggal 0,75, sementara angka kelahiran hanya 4,76 per 1.000 penduduk. Jauh di bawah angka 2,1 yang dibutuhkan agar populasi tetap stabil.
Pemerintah sampai mensubsidi pembekuan sel telur dan program IVF. Dulu sperma cukup berenang mengikuti naluri. Kini ia harus ditemani laboratorium, teknologi reproduksi, birokrasi, dan subsidi negara agar bisa bertemu ovum.
Lucunya lagi, Korea Selatan hanya menghasilkan sekitar 2.000 film dewasa per tahun. Artinya, akar persoalannya bukan sekadar industri hiburan dewasa, tetapi biaya hidup yang membuat romantisme kalah oleh cicilan apartemen.
Italia mengalami TFR 1,14 dengan hanya 355.000 kelahiran, turun 4 persen. Jerman berada di 1,32, sementara Spanyol dan Yunani juga masuk kelompok negara dengan reproduksi paling lesu. Dari 38 negara OECD, sebanyak 37 negara kini memiliki angka kelahiran di bawah tingkat penggantian populasi.
Amerika Serikat pun tak mau kalah. Industri hiburan dewasanya bernilai sekitar US$16 miliar, menghasilkan sekitar 14.000 film baru setiap tahun. Secara global, nilai bisnis ini diperkirakan telah melampaui US$100 miliar.
Lalu, mari kita menoleh ke belahan dunia yang lain. Ke negeri-negeri masih salah tingkah ketika mendengar kata “seks”. Jangankan film dewasa. Adegan ciuman beberapa detik saja bisa membuat orang tua buru-buru mengambil remote televisi. Pendidikan reproduksi sering dibungkus kalimat, “Nanti kalau sudah menikah.” Kata sperma dan ovum diucapkan pelan-pelan, seolah sedang membahas resep rahasia keluarga.
Namun anehnya, ruang bersalin di sana justru tetap sibuk. Tentu bukan berarti budaya tabu otomatis membuat angka kelahiran tinggi. Tidak sesederhana itu. Ada pengaruh agama, budaya keluarga besar, usia menikah, dukungan sosial, serta cara masyarakat memandang anak sebagai anugerah, bukan sekadar beban anggaran rumah tangga.
Kalau negara maju ibarat profesor hafal seluruh teori tentang reproduksi, mulai anatomi, hormon, ovulasi, hingga proses pembuahan, banyak masyarakat lebih konservatif justru seperti petani. Mereka mungkin tidak hafal istilah ilmiahnya, tetapi tahu persis kapan musim menanam kehidupan harus dimulai.
Yang satu menjelaskan proses pembuahan dengan animasi tiga dimensi. Yang satu diam-diam pulang dari rumah sakit sambil menggendong bayi ketiga.
Di negara maju, hubungan intim perlahan dipisahkan dari tujuan reproduksi. Ia berubah menjadi konten, hiburan, algoritma, dan komoditas ekonomi. Black Mamba menjadi aktor utama. Ovum lebih sering menjadi properti dalam ilustrasi ilmiah dari benar-benar menjadi tujuan akhir.
Sebaliknya, di banyak masyarakat yang lebih konservatif, hubungan intim tetap dipandang sebagai bagian dari membangun keluarga. Black Mamba bukan sedang mengejar rating penonton atau jumlah pelanggan berbayar. Ia sedang menjalankan kontrak biologis tertua dalam sejarah kehidupan, menemukan satu ovum untuk melanjutkan silsilah manusia.
Ironinya sungguh menggelitik. Yang satu memproduksi jutaan adegan tentang bagaimana kehidupan dimulai. Yang satu diam-diam benar-benar memulai kehidupan. Seolah dunia terbagi menjadi dua kampus.
Kampus pertama memiliki laboratorium reproduksi paling modern, kamera paling mahal, pencahayaan terbaik, dan ribuan film sebagai bahan praktikum. Namun setiap tahun, wisudawan bernama “bayi” semakin sedikit.
Kampus kedua ruang kelasnya sederhana. Buku biologinya mungkin sudah lusuh. Pembahasan seks masih membuat peserta didik menunduk malu. Tetapi setiap tahun mereka lulus ujian reproduksi dengan predikat cum laude. Bayi terus lahir. Generasi terus berganti.
Mungkin di situlah satire terbesar abad ini. Manusia modern semakin pandai menjelaskan bagaimana sperma bertemu ovum. Semakin canggih menggambarkan hubungan intim. Semakin lihai mengomersialkan romantisme.
Ternyata, menjadikan dua manusia saling mencintai, merasa aman secara ekonomi, lalu bersedia menghadirkan seorang anak ke dunia, jauh lebih sulit dari memproduksi ribuan adegan yang hanya berhenti ketika sutradara berteriak, “Cut!”
Islam sesungguhnya sudah menempatkan hubungan suami istri pada derajat jauh lebih mulia dari sekadar pemuasan hasrat biologis. Dalam Islam, hubungan intim dalam ikatan pernikahan bernilai ibadah. Rasulullah menjelaskan, ketika seorang suami dan istri menyalurkan syahwatnya dengan cara halal, di situ terdapat pahala. Sesuatu yang tampak biologis ternyata memiliki dimensi spiritual.
Al-Qur’an pun mengingatkan, manusia berasal dari nutfah, setetes mani yang atas izin Allah bertemu ovum, berkembang di dalam rahim, lalu lahirlah seorang manusia dengan segala potensi dan kemuliaannya. Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 49–50 bahwa Dialah menganugerahkan anak laki-laki atau perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Artinya, reproduksi bukan sekadar peristiwa biologis. Ia adalah amanah peradaban. Sperma bukan hanya sel yang berenang. Ia membawa nasab. Ovum bukan sekadar sel telur. Ia menjadi pintu masuk lahirnya generasi yang kelak membangun atau menyelamatkan sebuah bangsa.
Karena itu, ironi terbesar zaman ini bukanlah banyaknya film dewasa atau canggihnya pendidikan seks. Ironi sesungguhnya adalah ketika manusia semakin mahir mempertontonkan proses penciptaan kehidupan, tetapi semakin enggan menghadirkan kehidupan itu sendiri.
Peradaban sibuk memproduksi tontonan tentang awal kehidupan, sementara Allah telah mengajarkan, kehidupan adalah amanah harus dijaga melalui keluarga sah, cinta bertanggung jawab, dan keturunan saleh. Sebab pada akhirnya, yang akan terus mengalir bukan tepuk tangan penonton atau keuntungan industri, melainkan doa seorang anak saleh yang tak pernah putus untuk kedua orang tuanya.
Penulis: Rosadi Jamani













