
EDITORIANA – Disclaimer: ini hanya dongeng, sekadar hiburan. Kalau ada merasa cengeng, ada baiknya seruput Koptagul, wak. Nikmati dongengnya sambil nyantai di teras rumah.
Konon, di sebuah negeri bernama Republik Embegia, hukum berjalan sangat adil. Semua orang diperlakukan sama. Bedanya, ada sama-sama diperiksa, ada sama-sama diperiksa sambil minum kopi, dan ada pula sama-sama diperiksa tetapi sempat liburan.
Tokoh paling terkenal di negeri itu adalah Fegie Akmaludinsyah, Kepala Badan Pengumpul Amplop Antargalaksi. Wajahnya selalu tenang. Senyumnya selalu tipis. Padahal isi kepalanya lebih ramai dari grup WA ormas saat Lebaran.
Suatu pagi, Korps Brimob Embegia mengepung rumah Fegie. Sirene meraung. Helikopter berputar. Wartawan memanjat pohon mangga. Pedagang cilok membuka cabang.
Fegie langsung berteriak. “Kerahkan Pasukan Hijau Elite! Jangan biarkan satu pun batu pagar bergeser!”
Rupanya pasukan elite itu menjaga rumah dinas Fegie. Sementara rumah pribadinya tanpa pengawalan. Fegie kecolongan.
Polisi sudah masuk melalui kandang ayam tetangga, menyusuri selokan, melompati kolam lele, lalu muncul dari dapur sambil berkata sopan, “Permisi.” Seluruh uang dalam bentuk dolar dan emas sampai 74 kg diangkut Brimob Embegia.
Beberapa hari kemudian, Korps Brimob Embegia menggelar konferensi pers. “Mulai hari ini, Fegie Akmaludinsyah resmi menjadi tersangka dugaan penyelundupan resep sambal antargalaksi dan penggelapan kupon bakso premium.” Soal dolar dan emas, dipindah ke brankas yang baru.
Harga cabai langsung naik. Ayam berhenti berkokok. Burung merpati memilih cuti.
Fegie gemetar. Ia segera menelepon atasannya, Jamaluddin, Jaksa Agung Republik Embegia.
“Bos… tamat saya.”
“Tidak ada kata tamat sebelum bab terakhir,” jawab Jamaluddin tenang.
Malam itu mereka bertemu di markas paling rahasia di alam semesta. Markas itu berada di dalam termos raksasa yang dikubur jauh di bawah tanah. Dindingnya terbuat dari kulit durian anti-radar, daun pisang penangkal satelit, dan aluminium pembungkus martabak. Sinyal telepon menyerah. GPS menangis. Satelit Elon Musk malah menjauh dari orbit.
Jamaluddin menggelar peta yang ternyata hanya bungkus nasi goreng.
“Tenang.”
“Gimana saya bisa tenang, Bos?”
“Di Embegia, kepanikan adalah hobi rakyat. Besok mereka sudah sibuk membahas isu lain.”
Fegie mengangguk.
“Lalu strategi kita?”
“Mudah. Jangan pernah lupa tersenyum. Orang tersenyum selalu terlihat seperti tahu sesuatu, padahal belum tentu.”
“Tapi bagaimana kalau wartawan terus bertanya?”
“Jawab saja, ‘masih dipelajari.’ Kalimat itu bisa dipakai untuk segala musim.”
Fegie makin tenang. Lalu, Jamaluddin mengancam Fegie. “Ingat soal harta di rumah istri-istri saya, ente jangan bocorkan. Cukup antara kita saja. Selebihnya, saya jamin ente, aman. Soal status tersangka, mirip tersangka sebelumnya.”
Fegie semakin tenang. Ia juga diminta untuk sembunyi dalam beberapa minggu ke depan. Ia menunggu momen pas untuk keluar markas. Sementara Jamaluddin mulai melakukan upaya damai dengan pihak yang ngincar Fegie. Usahanya sukses. Fegie pun tenang. “Hebat bos saya,” ujarnya dalam hati.
Di luar markas, media sosial Embegia sudah penuh teori konspirasi. Ada yakin Fegie menyimpan peta menuju Planet Bakso. Ada percaya ia memiliki mesin pencetak kupon mi instan tanpa batas. Bahkan ada bersumpah pernah melihat seekor bebek membawa koper berisi emas rasa keju.
Tidak ada satu pun cerita yang masuk akal. Justru karena itulah semuanya viral.
Jamaluddin menyesap teh.
“Ingat, Fegie. Negeri ini bukan kekurangan berita.”
“Lalu?”
“Negeri ini kelebihan imajinasi.”
Keduanya tertawa.
Di luar sana, rakyat masih sibuk berdebat. Sebagian percaya teori A. Sebagian percaya teori B. Sebagian lagi percaya apa pun yang muncul pertama di beranda.
Sejak hari itu lahirlah pepatah baru di Republik Embegia, “Jika kenyataan terlalu membingungkan, orang akan menciptakan dongeng. Jika dongeng terlalu masuk akal, berarti itu bukan Republik Embegia.”
Hingga hari ini, tidak ada yang benar-benar tahu apakah republik itu pernah ada. Yang pasti, logikanya sudah pensiun jauh lebih dulu dari para pegawainya.
Penulis: Rosadi Jamani/Ketua Satupena Kalbar













